adakalanya kau akan sampai pada penantian yang sudah kau tunggu, walau tak tahu kapan itu akan sampai
sekarang tanjakan mulai curam, derajatnya mulai menikung tajam
kalu kau membawa air dalam gelas yang penuh, tinggalah setengah atau kurang, maka tertumpahlah menyiram tanah
seakan hidup ini bukan yang terburuk, memang.
tapi ini adalah yang terburuk yang pernah kudapatkan samapi di kepalaku yang ke dua,
susah sekali membandingkan dengan yang dibawah, karena memang membutuhkan usaha lebih untuk membandingkan, tiada yang pasti
kalau hidup itu bulat, pasti punyaku adalah bulat yang tak sempurna
kalau saja bulat sempurna pasti garis tepinya tipis dan tak rata
sejauh apa kuberlari, panggilan akan terdengar
sejauh apapun aku menunggu mati, pasti akan terjadi, namun harus kuselesaikan apa yang disebut rintangan
kudiamkan saja, kutenggelamkan mata, ku tutup telinga, tertidur dengan udara di atas kepalaku, dengan gelap di depan sejauh kucoba melihat dalam lelap
Tuhan memberitahu dengan berbagai cara yang berlimpah, dengan segala arah yang sampai aku pun tak pernah sadar itu adalah arah
sekarang aku masih berlari
tak menengok kebalakang,
ketakutan itu mengikuti, melambat , mempercepat seperti mempermainkanku dalam histeris
aku melambatkan langkah, di mecariku dari ujung kakiku
kupercepat langkah, dia memanggilku hingga terpaksa ku menoleh,
aku ketakutan dengan amat sangat sampai menangis
lalu hujan turun,membuatku merasa langit sepaham denganku,kuterlelap diam
lalu fajar datang,haripun masih berlalu, dan ada harapan
dari Tuhan
